The 8th NIWC 2017: Pelajaran yang Berharga


            Semua dimulai  saat teman SMA mengajakku, “bagaimana kalau kita ikut volunteer tentang kusta di Indonesia?.  Yang saya rasakan pertama kali adalah untuk apa datang ke Indonesia? Sebelumnya, apa itu kusta?. Setelah beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang kusta, saya memutuskan untuk datang ke Indonesia. Perasaan saya saat pertama kali tiba di Nganget adalah, “Oh,  desa. Katanya terdapat orang yang pernah mengalami kusta, tetapi tidak terlihat perbedaan dengan  orang biasa. Semakin lama tinggal di desa dan makin dekat dengan warga, saya menemukan  “perbedaan dengan orang biasa di fisik mereka. Seperti jari yang bengkok, kecacatan pada hidung,  alis mata yang hilang, atau laki – laki yang mengalami pembesaran di dadanya (ginekomastia), itu adalah ciri - ciri fisik pada orang yang pernah mengalami kusta, yang  bisa menimbulkan stigma  dari  orang-orang di sekitarnya.
            Minggu pertama workcamp, saya sering berinteraksi dengan orang - orang yang extrovert dan suka jalan - jalan. Karena sifat mereka yang seperti itu, saya merasa mereka mempunyai pandangan yang  optimis tentang diskriminasi atau stigma  yang mereka alami di masa lalu. Karena banyak mendengarkan tentang pandangan seperti itu, tanpa sadar saya merasa, kalau warga optimis seperti ini,  saya tidak perlu mendengarkan cerita dari warga dan tidak perlu berada bersama mereka”.  Pada hari – hari terakhir di workcamp, saya baru menyadari bahwa perasaan tersebuta dalah sebuah kesalahan fatal. Hal ini terjadi ketika saya bertemu dengan Bapak Paijo, umurnya  60an, tinggal di panti. Kami mengobrol seperti biasanya, dan saat saya menyentuh badannya, dia menjauhkan badannya dari saya dan mengatakan sesuatu. Saya tidak mengerti, mengapa dia menjauhkan badannya dari saya. Camper Indonesia menerjemahkan apa yang dikatakan bapak. Dia bilang, saya tidak mau disentuh”. Saya bertanya apa alasannya, lalu dia menjawab “Saya kotor, dan sebenarnya kamu tidak ingin menyentuh badan saya, kan? Semua orang tidak mau menyentuh badan saya. Jadi kamu nggak usah memaksakan diri”. Saat mendengar kata-katanya, timbul kemarahan dan kesedihan dari dalam diri saya, lalu mengalirlah  air mata.  Karena  gerakan refleks bapak Paijo menceritakan betapa kejamnya diskriminasi yang dia alami hingga saat ini. Setelah kejadian ini, saya terus berpikir, apakah masih banyak warga yang menyembunyikan luka dalam hatinya seperti pak Paijo? Dan jika iya, apa yang bisa saya lakukan untuk mereka?
      Suatu hari, saya mendengar dari camper lain bahwa Warga disni hidup dengan sangat sederhana, bahkan kekurangan, hingga mereka tidak yakin apakah bulan depan bisa makan atau tidak”. Walaupun hidup dengan kondisi seperti ini, warga selalu berusaha memberikan snack atau makanan, walaupun dengan jumlah yang terbatas, untuk kami. Kami menolak Tidak usah, tetapi mereka tetap bilang,  Makan saja, makan. Saya makan dengan perasaan bersalah, tapi saat kami makan, wajah ibu tampak sangat puas dan senang.          
          Saat itu, saya berpendapat bahwa Kupikir apa yang membuat mereka merasa sangat senang adalah berada di suatu tempat bersama orang lain, seperti yang kita lakukan saat makan dirumahnya, gosip di rumahnya, dan tidur di tempat mereka”. Dengan kata lain, kami melakukan kegiatan untuk menjelaskan hal – hal tentang kusta. Tapi sebenarnya, apa yang mereka inginkan adalah menghabiskan waktu bersama – sama dengan orang lain, yang mungkin adalah hal yang biasa untuk kami.

Matthew Bailey

Volunteer of The 8th Nganget International Work Camp 2017

Comments