The 8th NIWC 2017: Nganget Mencari Arti


21 Juli 2017, Kereta Api Kertajaya, Pasar Senen-Bojonegoro.


Hari itu, adalah hari keberangkatan saya yang pertama ke Nganget. Saya sama sekali tidak mengetahui bagaimana wujud Nganget, kondisi warganya, keadaan, suasana, dan sebagainya. Satu-satunya hal yang saya tahu waktu itu hanyalah Nganget adalah suatu wilayah yang ditinggali oleh orang-orang yang pernah mengalami kusta, dan satu-satunya yang saya yakini, kehadiran kami dengan NIWC akan membuat mereka lebih baik.
Begitu pula dengan alasan saya mengikuti NIWC 2017, alasan saya waktu itu benar-benar sederhana. Saya merasa bahwa selama kuliah, selama hidup ini, saya belum benar-benar melakukan hal yang berarti bagi orang lain. Semua kemudahan yang saya terima, kemudahan belajar, fasilitas, dan segala anugerah  yang saya dapatkan serasa tidak memiliki arti yang jelas. Untuk apakah saya hidup ? apakah hanya untuk mengejar kekayaan, prestasi, dan target pribadi yang semu ? Apakah saya hanya hidup untuk sendiri ? Apakah arti hidup ? Apakah arti bermanfaat ? Dari pertanyaan yang selalu muncul itulah, saya meyakinkan untuk menjadi volunteer NIWC 2017. Lagi-lagi, saya mengambil kesimpulan bahwa dengan mengikuti NIWC 2017, saya akan menemukan arti bermanfaat, saya akan membantu mereka, saya akan membuat kondisi mereka lebih baik, dan saya akan memenuhi kewajiban saya dalam hidup, tugas saya selesai. Hal-hal itulah yang membuat saya menyesal, karena semua kesimpulan yang saya ambil, tidak sepenuhnya benar.
5 Agustus 2017, Nganget, Tuban, Jawa Timur
Semua yang saya perkirakan di awal, langsung terpatahkan ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di Nganget, berbalik seratus delapan puluh derajat. Pada akhirnya, saya tidak memberikan apa-apa untuk Nganget dan warganya, merekalah yang memberikan banyak hal, Merekalah yang membantu saya, merekalah yang memberi saya pelajaran, dan pertemuan dengan merekalah yang membuat saya lebih baik.
Semua bermula dari cara mereka menyambut kami dan menyayangi kami. Waktu pertemuan antara kami, volunteer dengan para warga Nganget mungkin bisa dihitung dengan jari, hanya sekitar dua minggu. Namun mereka memperlakukan kami seakan-akan telah mengenal kami bertahun-tahun lamanya. Mereka menyayangi kami, selayaknya mereka menyayangi anak mereka sendiri. Mereka melakukan semua hal yang mereka bisa -bahkan mungkin melampaui batas mereka- untuk membuat kami merasa nyaman, membuat kami tidak kelaparan dan sebagainya. De Ning, Bu Sumini, Buk Ti, Bu Tun, dan hampir semua warga Nganget selalu menyiapkan makanan setiap kami mampir.  Mangan sek rene, ndang turu o kono,  hampir selalu menjadi kata kata yang selalu saya dengar ketika mampir ke rumah warga. Mereka tidak ingin kami kelelahan atau kelaparan. Bahkan saya pernah mendengar, bahwa warga sengaja mempersiapkan persediaan  makanan berlebih di waktu workcamp, demi volunteer, bahkan beberapa dari mereka yang pada hari biasa dalam kondisi kekurangan, berusaha sekuat tenaga untuk bisa memberikan yang terbaik kepada kami. Hal ini benar-benar menggetarkan hati saya. Di luar keluarga, saya tidak pernah merasakan kasih sayang sebesar kasih sayang mereka. Hal inilah yang membuat saya menangis ketika workcamp berakhir, saya merasa tidak memberikan apa-apa untuk mereka, sedangkan mereka memberi segala yang mereka punya untuk kami. Dari mereka saya belajar bahwa dalam keadaan apapun, keterbatasan apapun, tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk berbuat baik, untuk menyayangi sesama. Dari mereka, saya menemukan keluarga.
Dari mereka pula saya belajar mengenai bagaimana memandang hidup, bagaimana untuk memaknainya dengan baik. Saya belajar bahwa keterbatasan bukanlah halangan. Warga Nganget tidak pernah menyerah dengan kondisi mereka. Dengan keterbatasan yang ada mereka bekerja keras, berbuat sesuatu. Pak Tamzani, Pak Romli yang pandai membuat perabot rumah tangga, Pak Untung yang ahli membuat bangunan, dan warga warga lain yang bercocok tanam, beternak, ataupun berdagang. Mereka semua berusaha keras, berbuat sesuatu, tidak tinggal diam dan menyerah dengan keadaan. Inilah yang membuat saya malu, dengan segala kemudahan yang saya dapatkan, terkadang saya menyerah terlalu mudah, terkadang saya malas karena keadaan, saya kurang bersyukur, dan iri terhadap pencapaian orang lain. Sungguh tidak bersyukurnya saya.
Mereka pula lah yang mengajarkan bagaimana bersyukur kepada Tuhan, atas segala nikmat yang ada. Terkadang kita lalai, bahwa hidup sendiri, kesempatan untuk bernafas saja, adalah suatu nikmat yang amat besar. Mendengar kisah-kisah mereka membuat saya sedih, dan belajar untuk hidup dengan lebih bersyukur. Pak Romli adalah salah satu contonya. Pada saat SMP, saat pertama kali beliau tahu bahwa beliau mengalami kusta, beliau pergi dari rumah, tanpa kabar. Beliau pergi, karena tidak ingin menjadi beban untuk keluarga, dan tidak ingin juga diperlakukan berbeda. Hanya bermodal tekad, di umur yang sangat belia Pak Romli pergi, tanpa tujuan, hingga akhirnya sampai ke Nganget, Tuban. Sanak saudara dan tetangga mengira Pak Romli sudah meninggal, karena hilang bertahun-tahun tanpa kabar. Padahal tanpa mereka tahu, Pak Romli berjuang sendirian, tidur di masjid, belajar membuat perabotan, dan hidup sendiri, sampai sekarang setelah puluhan tahun berlalu, Pak Romli bisa hidup mandiri, beliau masih hidup sendiri, benar-benar sendiri. Beliau menceritakan ini semua kepada kami di rumahnya. Begitu pula dengan warga Nganget lainnya, mereka semua memiliki kisah yang membuat kami berfikir sejauh mana kami memaknai hidup kami. Bu Muhana yang hanya tinggal sendiri, serumah dengan sapi peliharaan yang sangat beliau sayangi. Bu Yohana, putri dari pendiri rumah sakit kusta, dan banyak lagi kisah kisah lainnya. Warga Nganget terdiri dari berbagai macam agama, dengan segala keadaan yang ada, justru mereka semakin dekat dengan pencipta. Mereka mengajarkan kami untuk terus beribadah dan bersyukur ke Tuhan.


Pak Romli

Selain hal-hal yang diajarkan warga Nganget tersebut, hal paling utama kami dapat adalah cinta. Kami belajar, bahwa cinta, bisa muncul dari mana saja. Bahwa cinta, dapat datang kapan saja. Kami hanya datang, membangun jalan dan kamar ganti di worksite, namun, itu semua tak sebanding dengan cinta yang mereka berikan. Kami belajar perasaan tertinggi yang bisa dimiliki manusia. Kami belajar bagaimana mencintai hidup dan memaknainya. Kami belajar menjadi mereka. Seharusnya kamilah yang membangun jalan, namun justru mereka yang membantu kami sekuat tenaga. Seharusnya kamilah yang mendukung dan menguatkan mereka, tapi merekalah yang senantiasa mendoakan kami. Dari banyak hal hal yang kami dapat, hal yang dapat disimpulkan adalah, bukan saya yang menemukan arti dengan mengikuti workcamp ini, saya tidak merasa bermanfaat, karena justru merekalah yang membantu saya. Saya tidak merasa membuat mereka lebih baik, karena merekalah yang membuat saya lebih baik.  Saya belum berhasil menemukan arti dari hidup ini,  tapi merekalah yang membuat hidup saya bermakna, merekalah yang mengajari saya, merekalah yang menjadi makna bagi hidup saya.
Selama dua minggu, kami hidup bersama dengan warga Nganget, kami makan bersama, kami ikut ke ladang bersama mereka, kami ikut ke hutan bersama mereka, kami mencari rumput, kami bekerja bakti, kami beribadah bersama, kami tertawa bersama dan menangis bersama. Dua minggu di Nganget, bermakna lebih dari sekedar empat belas kali dua puluh empat jam. Bertemu dan mengenal mereka adalah suatu kesempatan yang akan terus saya syukuri dalam hidup ini. Mereka mengajari kami banyak hal, mereka memberi banyak hal, mereka menunjukkan banyak hal. Satu hal yang paling penting, bukan kami yang membantu mereka, Merekalah yang membantu kami, menemukan makna, untuk hidup kami. Berbulan-bulan sudah berlalu, tapi kasih sayang, cinta dan kehangatan kalian masih selalu terasa. Terima kasih Nganget, Terima kasih semua Bapak dan Ibu disana, Terima kasih volunteer, Atas berkat kalian, kami menemukan keluarga, kami menemukan cinta. Semoga Nganget tetap sama, tunggu kami, kami akan kembali kesana.      

Depok, 27 Oktober 2017
Ditulis dengan perasaan yang akan selalu sama,


Adam Arditya Fajri
Volunteer of The 8th Nganget International Work Camp








Comments