Skip to main content

The 8th NIWC 2017: Sapi, Anak Ibuku


      Suatu siang, aku menerima sebuah pesan singkat, ‘Nduk, aku kepingin rungokno suaramu’ atau dalam bahasa Indonesia artinya ‘Anakku, aku ingin mendengar suaramu’. Kalimat itu kudapat dari Ibu paling ceria dan cerewet yang pernah kukenal di Nganget, Bu Muanah. Aku terenyuh membacanya, rasa yang sama seperti yang kualami saat pertama kali datang ke rumah Ibu dengan Adam, Cinta, Miyu, Hina, dan Ginya.
     Aku ingat jelas senyum yang terpatri di wajah Bu Muanah saat kami menyapanya dan bilang kalau kami mau mampir. Aku juga ingat jelas saat senyum itu berganti menjadi wajah penuh penyesalan. Sesal yang Beliau rasakan karena tidak dapat menyajikan apapun untuk kami, sesal karena ia merasa rumahnya sangat tidak layak untuk dikunjungi, dan sesal akan identitas dirinya, ‘Aduh, nak, Ibu ini cuma janda, pernah sakit kusta, kakinya sudah tidak bagus lagi, sudah tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, ya begini saja hidupnya,’ katanya.
       Berulang kali ke Nganget, aku sudah sering mendengar para warga mengatakan hal yang sama seperti Ibu. Sampai sekarang, kalimat itu masih tetap membuat air mata ini jatuh tanpa peringatan. Rasanya menyakitkan untukku, si (hanya) pendengar. Apalagi mereka, sang pelaku, yang merasakan sendiri bagaimana orang-orang terdekat menjauhinya, bagaimana khalayak empunya kaki-tangan yang sempurna ini mengejeknya dan tidak mau membeli hasil panen yang sudah mereka usahakan dengan keras pada musimnya. Bisa coba deskripsikan rasa sakit yang menoreh hati mereka?
       Aku dan teman-teman mencoba untuk meyakinkan Bu Muanah bahwa kami baik-baik saja dengan semua kondisi yang ada. Akan tetapi, itu tidak cukup untuk mengembalikan keceriaan Ibuku ini. Sampai akhirnya tibalah kami berbicara tentang kegiatan Ibu seharian. ‘Ibu pagi-pagi ambil rumput untuk makan sapi, jam 10an pulang untuk kasih makan sapinya, nanti jam 2an ibu berangkat lagi ambil rumput,’ jelas ibu.
          ‘Sapi Ibu dimana?’ Aku lupa siapa yang bertanya, tapi aku ingat saat itu Ibu Muana langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengajak kami masuk ke belakang rumahnya yang dibatasi oleh tirai.
     ‘Itu loh Nak sapi, Ibu!’ katanya, maaf salah, serunya. Ibu berseru. Matanya berbinar. Senyumnya merekah. Menandakan ia sangat senang mengenalkan sapi itu pada kami. Mungkin Ibu juga senang melihat ekspresi kaget kami. Bagaimana mungkin tidak? Sapi itu sangat besar dan tinggal di dalam rumah! Kekhawatiranku hanya satu, aku takut saat Bu Muanah masak di dapur, lalu jika sapi itu mengamuk, sesuatu yang buruk dapat terjadi.
      ‘Engga kok, Ter. Baik ini sapinya. Ini lihat,’ Ibu meyakinkan aku sambil mengelus-elus sapinya dan membiarkan sapi itu menjilati tangan Ibu yang sangat kurus. Aku tercengang dengan apa yang kulihat, terlebih lagi setelah aku mencoba sendiri bagaimana rasanya saat lidah sapi yang panjang sekitar 15 cm dan tebal ini menyentuh kulit. Agak sakit rasanya. Lidah sapi itu tidak ada air liurnya, tidak licin. Saat itu aku tidak mengerti, mengapa Ibu rela menahan sakit itu untuk si sapi?
         ‘Lek ibu lagi genteni suket e, badanku iki ditumpaki karo sikile sing arep,’ kata Ibu yang artinya ‘kalau ibu sedang mengganti rumputnya, kaki bagian depan sapi akan naik ke pundak ibu’. Luar biasa kaget saat aku mendengarnya. Mungkin ibu melihat kekhawatiran di wajah kami semua sampai ia bilang, ‘tenang saja, sapinya ga bakal melukai ibu, Sapinya ini ya sayang banget sama ibu.’ Aku masih belum mengerti, mengapa Ibuku yang kecil ini rela menumpu si sapi yang besar itu?
     ‘Ini sapi ibu beli untuk dijual, tapi kalau sudah dekat Idul Adha gini ibu jadi sedih, jelasnya. Aku tetap belum mengerti mengapa Beliau harus bersedih? Padahal saat menjelang Idul Adha, Ibu dapat menjual sapi itu dan mendapatkan ganti dari jerih payah merawat si sapi selama ini.
        Kami mendengar lebih banyak kisah antara sapi dan Ibu. Kami pun akhirnya mulai berteman dengan sapi itu dan memberinya nama Sapi-Kun. Salah seorang dari kami menyarankan Ibu untuk foto dengan Sapi-Kun. Apa yang Ibuku lakukan setelah itu menjawab setiap pertanyaan mengapa yang kusimpan dalam hati.
        ‘Sek, sek, sek, nduk, sek ya, Ibu tak ganti kerudung dulu.’ Sek itu tunggu, Nduk itu Nak. Lalu dengan setengah berlari ia pergi ke ruang di balik tirai tadi. Sekitar 3 menit, ibu kembali tidak hanya dengan kerudung yang berbeda, tapi juga dengan baju yang berbeda, dan wajah yang dirias bedak juga lipstik.


Foto Bu Muanah dengan Sapikun

        Hatiku terenyuh saat melihat Ibu. Tahu mengapa? Karena aku baru sadar dibalik keceriaan dan cerewetnya Ibuku ini, ibuku ternyata sangat kesepian. Sapi-Kun bagi Ibu adalah anaknya, satu-satunya teman ditengah kesendiriannya. Mungkin karena itu sampai-sampai ibu rela tubuhnya ditimpa oleh kaki sapi, tangannya dijilati oleh si sapi, merasa sedih bila waktu untuk menjual sang sapi semakin dekat, dan ingin merias dirinya segitu rupa untuk membuat kenangan dengan Sapi-Kun. Kabar terakhir yang aku dapat, Ibu sudah menjual Sapi-Kun.
         Aku tersadar, bahwa kisah Bu Muana ini, merupakan perwakilan dari perasaan Ibu, Bapak, dan Mbah lain yang tinggal di Nganget. Hampir semua warga di Nganget yang pernah mengalami kusta, memiliki luka yang sama dihatinya. Mungkin terlukanya dulu, tapi bekasnya tersisa sampai sekarang.
      Dulu, saat mereka butuh uluran tangan orang lain, tidak ada yang membantunya. Dulu, butuh keluarga yang menguatkan saat mereka sakit, tapi keluarga pun meninggalkan mereka. Setelah mereka sembuh, mereka hanya butuh pengertian dari kaum yang lebih beruntung (mereka yang tidak sakit), tapi hal sederhana itu pun tak juga mereka dapatkan.
        Meskipun kusta sudah hilang dari tubuh bertahun-tahun lalu, tapi hati mereka belum sembuh. Bisa lihat apa akibatnya? Mereka menganggap dirinya tidak layak untuk aku sentuh. Mereka merasa dirinya sangat jelek. Mereka merasa tak berdaya. Sebagian dari mereka memilih untuk sembunyi dari keluarganya dan khalayak umum daripada merasakan kembali penolakan. Memilih untuk sendiri meskipun hati merasa kesepian. Aku sedih jika ingat bagaimana mereka memandang dirinya sendiri, padahal bagiku mereka sangat indah. Indah karena kebaikan dan kisah perjuangan yang meliputi mereka.
         Dari mereka, aku menerima jauh lebih banyak dari pada yang aku beri. Aku menerima kebaikan tanpa pamrih, aku merasakan kasih sayang seperti dari ayah-ibuku sendiri, aku menerima banyak pelajaran yang mengubah hidupku. Salah satunya aku belajar untuk dapat mengasihi sesamaku sama rata, tanpa ada perbedaan, sehingga tidak ada lagi yang merasakan luka seperti yang sudah warga Nganget rasakan lebih dulu.
         Aku yang lemah ini ingin menjadi kuat seperti mereka. Aku ingin punya kekuatan yang besar untuk mengampuni. Seperti mereka, yang menjadikan masa lalu yang pilu itu sebagai pelajaran untuk selalu menolong orang lain, bukan sebagai alasan agar mereka bisa melukai hati yang lain. Aku ingin punya kekuatan, seperti mereka, untuk bangkit setelah terpuruk sedemikian rupa.
         Menulis ini membuat aku ingin kembali kesana. Menghabiskan waktu dengan mereka. Karena tiap aku bersama mereka, aku selalu terkesima dengan senyum yang mereka berikan. Senyum yang membuatku tersentuh, karena aku tahu perjuangan mereka sampai akhirnya senyum itu bisa terpatri lagi. Aku tidak sabar ingin segera kembali kesana. 2 minggu yang terlewati sebelumnya, ternyata telalu cepat. 

Esther Purba
Volunteer of The 8th Nganget International Work Camp

Comments

Popular posts from this blog

[OPEN RECRUITMENT THE 9TH NGANGET INTERNATIONAL WORK CAMP 2018]

Apakah kamu ? 
✔ Mahasiswa salah satu universitas di Indonesia  ✔ Memiliki komitmen dan motivasi menjadi volunteer ✔ Bersedia berinteraksi dengan orang yang pernah mengalami kusta selama 2 minggu ✔  Berkomitmen untuk mengikuti acara work camp pada 6-20 Agustus 2018 dan bersedia mengikuti rangkaian acara NIWC

Kami mengajak kamu untuk bergabung  sebagai volunteer:
"The 9th Nganget International Work Camp 2018"
Dengan tujuan untuk  mengurangi diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta.
▪ Pendaftaran: 1. Isi formulir registrasi online  bit.ly/NIWC2018
2.  Download  form CV, Esai, dan Surat izin bit.ly/NIWC2018FORM
3. Kirim CV, Esai, Scan/Foto Surat Izin,  dan Foto diri ke:  Email: indonesia.lcc@gmail.com  cc: hidayatulfika76@gmail.com
▪ Konfirmasikan pendaftaranmu dengan mengirimkan pesan ke 0852-4317-1231 a.n Fika Dengan format: NIWC2018_Nama Lengkap_Universitas_Fakultas_Angkatan 
Deadline pengiriman berkas: 12 April 2018 ( 23.55 WIB )

Teaser The 9th Nganget Inter…

[OPEN RECRUITMENT THE 6TH DONOROJO WORK CAMP 2018]

Hallo calon volunteer, apakah kamu ? 
✔ Mahasiswa salah satu universitas di Indonesia (termasuk post-graduate) ✔ Aktif, independen, dan bertanggung jawab ✔ Bersedia berinteraksi dengan orang yang pernah mengalami kusta selama 2 minggu ✔  Berkomitmen untuk mengikuti acara work camp pada 7-20 Agustus 2018 dan bersedia mengikuti rangkaian acara DRWC 2018

Kami mengajak kamu untuk bergabung  sebagai volunteer:
"The 6th Donorojo Work Camp 2018"
Dengan tujuan untuk  mengurangi diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta.
▪ Pendaftaran: 1.  Download  form CV, Motivation Letter, dan Surat izin bit.ly/DRWC2018
2. Kirim CV, Esai, Scan/Foto Surat Izin,  dan Foto diri ke:  Email: Indonesia.lcc@gmail.com Cc: Yuta29x@gmail.com
▪ Konfirmasikan pendaftaranmu dengan mengirimkan pesan ke: 0856 9252 1385 a.n Yuta Dengan format: NIWC2018_Nama Lengkap_Universitas_Fakultas_Angkatan 
Deadline pengiriman berkas: 29 April 2018 ( 23.55 WIB )
Regards, Leprosy Care Community Indonesia
Line:…

[Struktur Kepengurusan LCC 2018]

Hallo Volunteers, yuk kenalan dengan pengurus baru dari LCC 2018!
General Leader LCC 2018 adalah Putu Arya dari Universitas Indonesia.  Anggota pengurus LCC adalah mahasiswa dari universitas-universitas di Indonesia.
Tahun ini tema yang diangkat adalah "Break The Chain Make A Change"
Selamat mengemban amanah! Sukses untuk LCC kedepannya!