Skip to main content

The 8th NIWC 2017: Memahami Kenangan


Seiring dengan perjalanan hidupnya, manusia cenderung menyimpan berbagai kenangan. Sampai sekarang aku tidak tahu berapa lama kenangan dapat bertahan, dan bagaimana kenangan itu akan tetap ada dalam pikiran manusia. “Kenangan memberikan kehangatan pada diri anda dari dalam, tapi kenangan juga dapat menghancurkan anda”, kurang lebih itu yang ditulis oleh Haruki Murakami dalam bukunya, Dunia Kafka, mengenai kenangan. Untukku, kenangan adalah harta pribadi seseorang yang mustahil dimiliki oleh orang lain. Orang lain mungkin memiliki kenangan tentang kegiatan yang sama, dalam waktu yang sama, dalam lingkaran orang – orang yang sama, namun tidak dengan kesan dan perasaan yang terselip dalam kenangan tersebut. Hanya kita yang memahami, dan merasakan kenangan yang ada dalam diri kita.
      Kenangan merupakan hal yang berharga, menurutku. Sama seperti sore itu, ketika aku kembali menginjakkan kakiku di Nganget, sebuah dusun yang tenang, walaupun sekarang semakin ramai dikunjungi warga luar karena pemandian air panasnya yang semakin terkenal. Beberapa warga telah berdiri di depan basecamp, menyambut kedatangan kami dengan senyum lebar di wajah mereka. Beberapa pelukan dan pertanyaan “Bagaimana kabarnya? Sudah lama ndak ketemu” tipikal orang yang sudah lama tak berjumpa dilontarkan untuk kami. Anak – anak kecil menghampiri beberapa volunteer dan menarik tangan mereka malu - malu, sebuah kode perkenalan yang dilemparkan untuk kami, para volunteer yang akan menjadi partner main mereka dua minggu kedepan. Sore itu, sambutan hangat warga Nganget kembali menjadi satu potong kenangan indah untukku. 
      Semakin bertambahnya usia, kenangan seseorang akan semakin banyak, begitu seharusnya, bukan? Karena setiap detik yang dilewatinya akan memberikan berbagai macam cerita yang akan tersimpan dalam bentuk kenangan. Sampai kemudian aku memahami bahwa adakalanya lebih baik untuk seseorang jika mereka menutup rapi sebagian kenangannya. Karena memang benar, kenangan dapat menghancurkan seseorang.
        Pemahaman itu aku dapat dari seorang ibu, yang juga merupakan istri dari orang yang pernah mengalami kusta, yang sudah puluhan tahun tinggal di Nganget bersama suami dan salah satu anaknya, bernama ibu Yati. Beliau tinggal di sebuah rumah kecil nan rapi, yang selalu terbuka kapanpun kami, para volunteer ingin berkunjung ke rumahnya. Setiap saat kami bertemu dengannya, beliau selalu menyapa kami, mengajak kami mengobrol tentang berbagai hal, dan memberikan senyuman terbaiknya kepada kami. Selama ini aku tidak tahu bahwa dibalik itu semua, beliau menyimpan kenangan menyakitkan. “Maunya kenangan masa lalu pas bapak sakit kusta disimpen, ditutup rapet, ndak usah dibuka – buka lagi. Soalnya tiap ibuk inget, atau tiap ibuk cerita, pengen nangis rasanya. Sakit hati rasanya, nak”, ujar beliau sambil menahan air mata.
      Kenangan tentang perlakuan masyarakat terhadap keluarganya, saat sang suami mengalami kusta, masuk dalam kategori kenangan yang menghancurkan bagi ibu Yati. Betapa tidak? Dalam kenangan tersebut, bu Yati dapat melihat jelas dirinya, beberapa tahun silam, harus dikurung di dalam kamar oleh saudara – saudaranya, hanya agar dia mau mecari suami lain, dan tidak kembali pada suaminya yang sedang mengalami kusta. Mengalami berbagai bentuk penolakan, termasuk larangan untuk mengambil air bersih di satu – satunya sumur yang menjadi sumber air bersih di desanya saat itu, sehingga bu Yati harus berjalan jauh ke sungai saat dini hari hanya untuk mencari sumber air bersih yang “katanya” adalah hak seluruh warga negara. Dengan setia, beliau berjuang menghidupi diri sendiri serta kedua anaknya yang masih kecil, di saat yang sama, suaminya berjuang melawan penyakit kusta yang dialaminya. “Yang paling sakit itu, kalau ingat pas anak pertamaku harus ngebantu aku kerja di sawah, hujan – hujanan, hanya biar bisa makan paling ndak sekali sehari” ucapnya dengan mata memerah menahan tiap air mata.
       Kenangan memang dapat disimpan rapi dan tertutup rapat dalam diri seseorang. Namun satu yang aku tahu, kenangan tidak dapat dibuang. Suatu saat mereka akan muncul dan membawa pikiran  seseorang kembali di masa kenangan itu terjadi.
Satu hal yang ironis adalah, setiap kenangan yang menghancurkan yang dialami oleh bu Yati  itu ditorehkan oleh masyarakat, bahkan saudara – saudara di sekitarnya, yang masih menganggap bahwa kusta adalah penyakit berbahaya, dan wajar jika orang yang pernah mengalami kusta serta keluarganya mengalami berbagai bentuk penolakan dan diskriminasi oleh masyarakat di sekitarnya. Padahal faktanya, kusta bukanlah penyakit yang berbahaya. Dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tersedia dengan akses mudah di tiap – tiap puskesmas. Orang yang sedang maupun pernah mengalami kusta adalah manusia biasa, dengan tiap – tiap hak yang sama seperti kita. Maka pantaskah jika mereka masih mendapatkan penolakan dan diskriminasi?
      Walaupun nantinya, mereka dapat menjalani kehidupan yang mendekati normal, namun kenangan yang pernah mereka dapatkan saat masih mengalami kusta dapat muncul kembali, menghancurkan perasaan mereka, dan pada akhirnya mengingatkan mereka pada perasaan sakit dan sedih yang pernah mereka alami sebelumnya. Aku yakin tak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan kenangan menghancurkan itu ada dalam diri mereka. Begitupun halnya dengan kita, bukan? Namun senangkah apabila pada akhirnya, kitalah salah satu orang yang menciptakan kenangan menghancurkan itu untuk orang lain?
            Di Indonesia, masih ada orang yang sedang maupun pernah mengalami kusta. Aku tidak tahu perasaan masyarakat mengenai mereka. Aku juga tidak dapat seenaknya berkata “jangan melakukan penolakan atau diskriminasi terhadap orang sedang atau pernah mengalami kusta” tanpa mengetahui apa yang masyarakat pikirkan. Pun aku juga tidak tahu cara yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengurangi isu diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta, yang tanpa disadari, masih banyak terjadi di masyarakat Indonesia. Aku hanya berharap, bahwa manusia bisa menjadi sedikit lebih peka terhadap lingkungannya, terhadap perasaan orang – orang disekitarnya, dan berusaha untuk tidak menorehkan kenangan yang dapat menghancurkan untuk orang lain. Jika kita dapat menciptakan kenangan yang dapat menghangatkan dan membahagiakan seseorang ketika mengingatnya, mengapa kita harus memilih membuat kenangan yang menyakitkan dan menghancurkan?
           Dari Nganget, aku belajar memahami beberapa hakikat mengenai kenangan. Bagiku, kenangan adalah identitas. Siapakah aku? Seperti apakah aku? Apakah aku tipikal orang yang introvert? Atau ekstrovert? Dan yang terpenting adalah kenangan tentang bagaimana orang – orang menerima aku sebagai aku apa adanya. Seperti warga Nganget yang selalu membukakan pintunya untuk tiap – tiap volunteer, tak terkecuali siapapun mereka. Tak peduli apakah volunteer yang datang itu pendiam, berisik, dengan berbagai warna kulit, dengan berbagai latar belakang keluarga dan ekonomi. “Kalian dateng ke sini aja kami udah bersyukur, seneng banget rasanya” kata bu Dwi, salah satu warga Nganget, yang selalu menantikan kedatangan volunteer tiap tahunnya. Satu potong kenangan lagi yang Nganget berikan kepadaku. Tentang perasaan bahagia sekaligus lega, ketika seseorang menghargai dan menerimamu apa adanya.
          Bagiku, Kenangan adalah harta berharga. Yang tiap aku mencoba mengingatnya, aku akan mengalami tiap detail perasaan itu kembali. Tertawa lebar ketika mengingat Pak Romli, salah satu warga Nganget yang super kocak terseret sekian meter untuk mempertahankan posisinya sebagai juara tarik tambang di acara lomba tujuh belasan yang kami adakan. Tersenyum tipis – tipis ketika anak – anak kecil Nganget yang sangat menggemaskan itu bilang “Kak adin cantik kok” (walaupun dengan beberapa keinginan tersembunyi, haha). Atau mata berkaca – kaca ketika teringat perkataan Mbah wariman, yang tinggal sebatang kara bersama orang yang pernah mengalami kusta lainnya di panti rehabilitasi “Alhamdulillah mbah masih hidup pas kamu wisuda, nduk”.
            Dan bagiku, kenangan adalah pelajaran berarti. Untuk setiap penyesalan yang pernah terlintas di benakku. Untuk tiap tetes air mata yang jatu di masa lalu. Kenangan – kengangan tersebut memberiku pelajaran yang berarti. Dan satu pelajaran dari tiap – tiap kenangan di Nganget adalah, rasa syukur. Warga Nganget telah mengajarkanku untuk selalu bersyukur atas segala yang kumiliki sekarang. Betapa aku beruntung, telah dipertemukan dengan orang – orang yang baik dan mau menerimaku apa adanya di dunia ini. Betapa aku hidup dalam kondisi yang berkecukupan jika dibandingkan dengan ribuan orang lainnya diluar sana. Mereka menunjukkan padaku bahwa, selalu ada harapan untuk bangkit dan bertahan, pun ketika kita jatuh ke fase kehidupan yang paling bawah, dengan cara mereka sendiri. Suatu hal berharga yang benar benar meresap di pikiranku, sepulang dari Nganget.
         Singkatnya, tiap – tiap kenangan yang kumiliki sekarang, termasuk tiap – tiap potong kenangan yang Nganget berikan kepadaku, adalah satu paket hadiah yang lengkap untuk hidupku dari Tuhan. Dan aku berharap, dapat menjalani hidupku sepenuhnya, menjadi orang yang dapat menyumbangkan kenangan – kenangan indah untuk orang lain, selagi menyimpan rapi tiap – tiap hadiah indah bernama kenangan itu dalam diriku.

Ditulis kembali terkhusus untuk tiap – tiap orang
yang telah menuliskan berbagai kenangan
dalam diriku, semasa hidupku.


Nadhila Beladina
Volunteer of  The 8th Nganget International Work Camp 2017

Comments

Popular posts from this blog

[OPEN RECRUITMENT THE 9TH NGANGET INTERNATIONAL WORK CAMP 2018]

Apakah kamu ? 
✔ Mahasiswa salah satu universitas di Indonesia  ✔ Memiliki komitmen dan motivasi menjadi volunteer ✔ Bersedia berinteraksi dengan orang yang pernah mengalami kusta selama 2 minggu ✔  Berkomitmen untuk mengikuti acara work camp pada 6-20 Agustus 2018 dan bersedia mengikuti rangkaian acara NIWC

Kami mengajak kamu untuk bergabung  sebagai volunteer:
"The 9th Nganget International Work Camp 2018"
Dengan tujuan untuk  mengurangi diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta.
▪ Pendaftaran: 1. Isi formulir registrasi online  bit.ly/NIWC2018
2.  Download  form CV, Esai, dan Surat izin bit.ly/NIWC2018FORM
3. Kirim CV, Esai, Scan/Foto Surat Izin,  dan Foto diri ke:  Email: indonesia.lcc@gmail.com  cc: hidayatulfika76@gmail.com
▪ Konfirmasikan pendaftaranmu dengan mengirimkan pesan ke 0852-4317-1231 a.n Fika Dengan format: NIWC2018_Nama Lengkap_Universitas_Fakultas_Angkatan 
Deadline pengiriman berkas: 12 April 2018 ( 23.55 WIB )

Teaser The 9th Nganget Inter…

[OPEN RECRUITMENT THE 6TH DONOROJO WORK CAMP 2018]

Hallo calon volunteer, apakah kamu ? 
✔ Mahasiswa salah satu universitas di Indonesia (termasuk post-graduate) ✔ Aktif, independen, dan bertanggung jawab ✔ Bersedia berinteraksi dengan orang yang pernah mengalami kusta selama 2 minggu ✔  Berkomitmen untuk mengikuti acara work camp pada 7-20 Agustus 2018 dan bersedia mengikuti rangkaian acara DRWC 2018

Kami mengajak kamu untuk bergabung  sebagai volunteer:
"The 6th Donorojo Work Camp 2018"
Dengan tujuan untuk  mengurangi diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta.
▪ Pendaftaran: 1.  Download  form CV, Motivation Letter, dan Surat izin bit.ly/DRWC2018
2. Kirim CV, Esai, Scan/Foto Surat Izin,  dan Foto diri ke:  Email: Indonesia.lcc@gmail.com Cc: Yuta29x@gmail.com
▪ Konfirmasikan pendaftaranmu dengan mengirimkan pesan ke: 0856 9252 1385 a.n Yuta Dengan format: NIWC2018_Nama Lengkap_Universitas_Fakultas_Angkatan 
Deadline pengiriman berkas: 29 April 2018 ( 23.55 WIB )
Regards, Leprosy Care Community Indonesia
Line:…

[Struktur Kepengurusan LCC 2018]

Hallo Volunteers, yuk kenalan dengan pengurus baru dari LCC 2018!
General Leader LCC 2018 adalah Putu Arya dari Universitas Indonesia.  Anggota pengurus LCC adalah mahasiswa dari universitas-universitas di Indonesia.
Tahun ini tema yang diangkat adalah "Break The Chain Make A Change"
Selamat mengemban amanah! Sukses untuk LCC kedepannya!