The 8th NIWC 2017: Menemukan Arti Cinta


Dengan cinta semua hal terasa sempurna. Dan karenanya hidup terasa lebih baik. Dua minggu di Nganget merupakan salah satu dua minggu terbaik di hidupku. Begitu banyak cinta yang aku terima, hal yang rasanya tidak pernah aku terima selain dari orang tua. Berminggu-minggu setelahnya pun masih jelas terasa cinta yang aku terima, juga pelukan hangat yang warga Nganget berikan kepadaku.
Aku bertemu dengan Pak Tarimo dan Bu Kasmini, di hari ke 8 di Nganget. Sebuah kebetulan dan juga sebuah takdir sepertinya. Pak Tarimo berumur hampir 60 tahun begitu juga dengan istri beliau. Bapak adalah orang yang sangat pemalu. Pertemuan pertama dengan beliau cukup canggung bagiku. Aku memperkenalkan diriku dan beliau hanya tersenyum malu-malu. Berkebalikan dengan Bu Kasmini yang ceria dan lebih terbuka. Di umur yang sudah hampir lanjut mereka juga memiliki seorang anak, Dodo, anak laki-laki berumur 14 tahun.
 Keluarga kecil ini hidup dengan memelihara 2 ekor sapi milik sendiri dan seekor sapi milik tetangga. Setiap pagi bapak membersihkan kotoran sapi di kandang dan memberi makan sapi. Setelah itu bapak mencari rumput untuk pakan sapi di bukit belakang desa. Ketika matahari sudah di atas kepala bapak pulang ke rumah. Biasanya ibu sudah menunggu bapak di depan rumah sembari menyapu pekarangan mungil di depan rumah mereka. Di sore hari bapak kembali mencari rumput untuk sapi atau terkadang Dodo yang baru pulang sekolah yang mencari rumput. Selain sapi, keluarga kecil ini juga memiliki beberapa ekor bebek dan ayam sebagai sumber penghidupan.
Walaupun bapak sangat pemalu, bapak sangat perhatian kepada aku. Suatu hari aku memaksa bapak untuk ikut mencari rumput, padahal bapak tidak mau aku kepanasan dan kelelahan. Akhirnya bapak mengizinkan aku untuk ikut mencari rumput. Aku sangat senang karena kupikir akan diajak ke bukit di belakang desa, tapi ternyata aku hanya diajak ke lapangan di depan desa karena bapak tidak mau aku berjalan jauh. Selama mencari rumput bapak tidak banyak berbicara namun matanya dengan khawatir menjagaku dari jauh, takut sesuatu terjadi. Bapak yang biasanya mencari rumput sampai 4 jam pun kali ini hanya 1 jam saja, takut aku tidak kuat padahal aku tidak apa-apa. Setelah mengantar aku kembali ke rumahnya, bapak diam-diam pergi lagi mencari rumput tanpa sepengetahuanku agar aku tidak ikut. Ternyata rumput yang dibutuhkan masih banyak. 
Dengan ibu aku banyak bercerita, ibu yang banyak bercerita lebih tepatnya karena aku lebih sering mendengarkan. Tentang banyak hal. Tentang kesehariannya, tentang Dodo, juga tentang kami para volunteer. Ibu sering sendiri dirumah sehingga beliau sangat senang kalau para volunteer datang ke rumahnya. Bagi beliau, 2 minggu saat kami camp adalah 2 minggu yang sangat menyenangkan setiap tahunnya. Ibu sangat bersemangat kalau bercerita tentang para volunteer yang datang tahun-tahun sebelumnya. Ibu bilang kami sudah seperti anak-anaknya sendiri. Aku sangat terharu ketika ibu memberiku 2 kantung plastik penuh telur rebus sebagai bekal ketika aku mau kembali ke Jakarta. Padahal hari itu keluarga ini tidak mempunyai makanan sama sekali untuk mereka. Aku sampai memaksa ibu membagi telur tersebut untuk aku bawa pulang dan untuk ibu makan.
Kehadiran Dodo di keluarga ini merupakan anugerah bagi bapak dan ibu. Bapak dan ibu sangat bangga denggan anak semata wayangnya ini. Anak ini juga sangat pemalu seperti bapaknya. Pertama kali aku berkunjung ke rumahnya, dia tidak mau mengobrol dan memilih menunggu di kandang sapi. Dia juga mencoret wajahnya sendiri di foto yang ada di kalender dari sekolah.  Dodo memang tidak banyak bicara, bahkan cenderung menghindar kalau diajak mengobrol. Tapi diam-diam dia sangat peduli dan menurut pada orang tuannya. Layaknya anak 14-an tahun lainnya, dia sangat suka bermain sepak bola. Tapi kalau bapak menyuruh Dodo mencari rumput, dia tidak akan membantah. Dia bilang padaku kalau mau meneruskan pendidikan di STM tapi dia ragu, takut kalau orang tuanya tidak sanggup membiayai.
Jangan membayangkan seperti kita yang bisa ke café hampir setiap hari, untuk makan sehari-hari saja haus berhutang ke kanan dan ke kiri. Jangan juga membayangkan kasur empuk untuk tidur, setiap malamnya saja hanya ibu yang tidur di rumah beralaskan kasur tipis sedang bapak tidur di panti rehabilitasi dan Dodo tidur di rumah tetangga. Keluarga ini memang hidup dalam kekurangan, tapi cinta dan kasih melengkapi mereka. Tampaknya cinta dan kasih mereka juga dibagikan ke padaku. Sebelum pulang ke Jakarta, Ibu bilang aku sudah seperti anaknya sendiri dan juga akan menunggu aku datang lagi ke sana.

Aku bersyukur mengikuti camp ini dan bertemu dengan keluarga ini. Tidak pernah sebelumnya terbesit untuk menghargai hal-hal kecil disekitar. Tidak juga menghargai perhatian dan cinta yang orang lain berikan. Setelahnya, baru kusadari selama ini aku menerima banyak cinta dan kasih dari orang-orang disekitar. Tidak terbukti ketakutanku, trust issue-ku, bahwa selama ini kebaikanku hanya akan diperalat oleh orang lain. Terimakasih telah mengajarkan arti hidup dan arti bersyukur. Terimakasih atas kasih sayangnya, juga telah mengajarkan arti memberi tanpa pamrih dan menolong tanpa mengharap balas.

Rabbani Bagaskara
Volunteer of The 8th Nganget International Work Camp 2017

Comments