Skip to main content

The 8th NIWC 2017: Guru Kesederhanaan

“Every time I look at myself in the mirror, I see nothing but failure. but once in my lifetime, I experienced something that changed myself a lot….Nganget, you’ve changed me.  Hmmmmm….. Nganget, yup! Its one of my turning points! To rid off my self from all the sick stuff I grew up with. I’ll share my experience as a volunteer in Nganget International Workcamp 2017.
And for your information, Dusun Nganget berada dibawah tanggung jawab Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan merupakan rumah bagi orang-orang yang pernah mengalami kusta. Mungkin cerita ini akan sedikit berbeda dibandingkan tulisan lainnya, karena inti pelajaran yang saya ambil selama mengikuti Nganget International Workcamp hanya mengenai satu hal, simplicity a.k.a kesederhaan.
Lalu apa hubungan Dusun Nganget dengan Kesederhanaan dan dengan diri saya?
Mengutip dari buku bacaan favorit saya L’art de la Simplicité  :
The simple life means more than merely contenting yourself with a frugal meal. It means aspiring to a higher plane of thought, a superior way of life. It means appreciating everything, discovering the joy inherent in the simplest everyday things. It means making the most of everything that comes our way”.
Warga Nganget mengajarkan tentang kutipan buku tersebut kepada saya. Mereka adalah Guru Kesederhanaan” terbaik bagi saya. Mereka mengajarkan untuk tidak melebih-lebihkan apapun dalam hidup ini, tidak melebihkan kesedihan dan pun ketika dipenuhi rasa bahagia, mereka akan membagikan kebahagiaan tersebut. Kesederhanaan mereka yang membuat saya tertakjub, bahwa dalam hidup saya ini banyak hal saya lewatkan karena complexity dari diri saya sendiri. Bahwa, menjadi bahagia itu cukup dengan sederhana; se-sederhana bersyukur bahwa saya masih bangun dipagi ini, bahwa langkah kaki saya masih bisa mengantarkan saya untuk pergi ke stasiun, bahwa saya masih bisa menyisihkan sedikit uang saya untuk berbagi dan banyak hal dalam keseharian saya yang seharusnya saya sadari bahwa hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang bisa membawa kebahagian. Karena bagi banyak orang hal tersebut tidak mudah dilakukan, semudah saya melakukan hal-hal tersebut. Bagi beberapa warga Nganget, untuk pergi ke Masjid mereka membutuhkan bantuan kaki palsu atau krek untuk membantu mereka berjalan, namun kondisi tersebut tidak mengurangi rasa syukur bahagia mereka. Warga nganget adalah sebuah Wake-up call bagi saya untuk berubah kearah yang lebih baik. Bahwa happiness is within us, dicontohkan dengan sangat baik oleh warga nganget J.
Saya juga belajar bahwa menolong adalah suatu bentuk lain dari cinta dan cinta itu buta. Dan saya paham bahwa untuk menolong, kadang kita perlu buta. Bahwa Menolong itu tanpa melihat siapa yang kita tolong. Menolong itu tanpa melihat imbalan apa yang akan kita dapat. Menolong itu tidak ada tolak ukur. Menolong itu seperti cinta, datangnya tiba-tiba, tanpa perlu kuasa namun yang berkuasa tak salah menempatkan pertolongan tersebut. Dan warga nganget-lah yang mengajarkan saya mengenai hal tersebut.
Ketika melaksanakan kegiatan Workcamp, dimana volunteer diwajibkan untuk gotong royong membangun fasilitas di desa nganget, banyak sekali bantuan yang diberikan oleh warga. Namun, yang sangat membekas bagi saya, ada dua warga nganget yang selalu menolong tanpa kenal waktu, Maspur dan Pak rengek…. Bantuan mereka uncountable bagi saya, mulai dari meminjamkan sepeda motor, piring, teko, kabel, dan yang sampai saat ini saya tidak bisa membalas adalah pertolongan tenaga dan usaha mereka yang tanpa henti dari pagi sampai dengan tengah malam, demi keberlangsungan workcamp. Mereka mengajarkan saya tentang, indahnya menolong, menolong tanpa pamrih dan tanpa kenal waktu.  Bahwa bentuk pertolongan yang sangat banyak dari mereka, mengingatkan saya kepada satu pesan yang selalu saya ingat dari Ibu yati (warga ngaget);
“Ketika kamu mempunyai niat baik, jangan pernah takut untuk melakukan niat itu. Allah selalu memberikan pertolongan dalam bentuk apapun.
Seakan-akan dari pesan itu, selama energi positif yang kita keluarkan maka semesta akan mengembalikan energi positif itu, dengan berbagai cara. Semesta akan mendukung ketika kita melakukan kebaikan, dan saya percaya itu.
Menolong tanpa mengharapkan imbalan, adalah salah satu seni hidup terindah, yang saya pelajari di Nganget. Menolong dengan abstrak-spontan dan mengandalkan nurani tanpa melihat hasil akhir apa yang didapat. Bahwa menolong, semata-mata bentuk ekspresi diri untuk memberi kebermanfaatan hidup kepada sesama dan ekpresi tersebut dapat menjelma dalam berbagai bentuk.
           Terima kasih, Nganget. Energi positif mu, akan aku sebarkan ke dunia. bahwa Stigma negatif dari sekitarmu, tidak akan pernah bisa mematikan energi positif didalam mu. Dan kebahagian terletak didalam diri kita, bukan pemberian dari orang lain.

Palupi Habsari
Volunteer of The 8th Nganget International Work Camp 2017

Comments

Popular posts from this blog

[OPEN RECRUITMENT THE 9TH NGANGET INTERNATIONAL WORK CAMP 2018]

Apakah kamu ? 
✔ Mahasiswa salah satu universitas di Indonesia  ✔ Memiliki komitmen dan motivasi menjadi volunteer ✔ Bersedia berinteraksi dengan orang yang pernah mengalami kusta selama 2 minggu ✔  Berkomitmen untuk mengikuti acara work camp pada 6-20 Agustus 2018 dan bersedia mengikuti rangkaian acara NIWC

Kami mengajak kamu untuk bergabung  sebagai volunteer:
"The 9th Nganget International Work Camp 2018"
Dengan tujuan untuk  mengurangi diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta.
▪ Pendaftaran: 1. Isi formulir registrasi online  bit.ly/NIWC2018
2.  Download  form CV, Esai, dan Surat izin bit.ly/NIWC2018FORM
3. Kirim CV, Esai, Scan/Foto Surat Izin,  dan Foto diri ke:  Email: indonesia.lcc@gmail.com  cc: hidayatulfika76@gmail.com
▪ Konfirmasikan pendaftaranmu dengan mengirimkan pesan ke 0852-4317-1231 a.n Fika Dengan format: NIWC2018_Nama Lengkap_Universitas_Fakultas_Angkatan 
Deadline pengiriman berkas: 12 April 2018 ( 23.55 WIB )

Teaser The 9th Nganget Inter…

[OPEN RECRUITMENT THE 6TH DONOROJO WORK CAMP 2018]

Hallo calon volunteer, apakah kamu ? 
✔ Mahasiswa salah satu universitas di Indonesia (termasuk post-graduate) ✔ Aktif, independen, dan bertanggung jawab ✔ Bersedia berinteraksi dengan orang yang pernah mengalami kusta selama 2 minggu ✔  Berkomitmen untuk mengikuti acara work camp pada 7-20 Agustus 2018 dan bersedia mengikuti rangkaian acara DRWC 2018

Kami mengajak kamu untuk bergabung  sebagai volunteer:
"The 6th Donorojo Work Camp 2018"
Dengan tujuan untuk  mengurangi diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta.
▪ Pendaftaran: 1.  Download  form CV, Motivation Letter, dan Surat izin bit.ly/DRWC2018
2. Kirim CV, Esai, Scan/Foto Surat Izin,  dan Foto diri ke:  Email: Indonesia.lcc@gmail.com Cc: Yuta29x@gmail.com
▪ Konfirmasikan pendaftaranmu dengan mengirimkan pesan ke: 0856 9252 1385 a.n Yuta Dengan format: NIWC2018_Nama Lengkap_Universitas_Fakultas_Angkatan 
Deadline pengiriman berkas: 29 April 2018 ( 23.55 WIB )
Regards, Leprosy Care Community Indonesia
Line:…

[Struktur Kepengurusan LCC 2018]

Hallo Volunteers, yuk kenalan dengan pengurus baru dari LCC 2018!
General Leader LCC 2018 adalah Putu Arya dari Universitas Indonesia.  Anggota pengurus LCC adalah mahasiswa dari universitas-universitas di Indonesia.
Tahun ini tema yang diangkat adalah "Break The Chain Make A Change"
Selamat mengemban amanah! Sukses untuk LCC kedepannya!