Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2017

The 8th NIWC 2017: Bertemu dengan Ibu

Work camp di Nganget ini adalah workcamp ke-2 saya. Saya merasa senang bisa bertemu lagi dengan warga yang saya sudah kenal di tahun lalu, dan ada banyak pertemuan dengan warga  yang  baru ku kenal  juga.  Saya akan bercerita tentang Ibu Sauda.             Ibu Sauda tinggal di panti. Waktu pertama kali bertemu dengannya, dia duduk di  lantai dan bersandar di kotak beroda yang isinya adalah alat – alat untuk mencuci baju. Dia kecil dan sangat cantik. Saya  ingin ngobrol dengannya, jadi saya mencoba berbicara dengan nya menggunakan bahasa Indonesia.  Dia hanya mengerti sedikit kata dalam bahasa Indonesia,  jadi dia menjawab dengan bahasa Jawa. Susah  berkomunikasi dengan bahasa,  jadi saya mencoba menyanyi lagu - lagu Indonesia yang saya tahu. Dia  juga tahu lagu itu, dan dia tersenyum lalu menyanyi bersama saya.  Saya senang sekali dan saya merasa ingin mengenalnya lebih dalam..             Hari berikutnya saya datang dengan campers Indonesia  yang bisa berbahasa Jawa. Dia bi…

The 8th NIWC 2017: Pelajaran yang Berharga

Semua dimulai  saat teman SMA mengajakku, “bagaimana kalau kitaikut volunteer tentangkusta di Indonesia?.  Yang saya rasakan pertama kali adalahuntuk apa datang ke Indonesia? Sebelumnya, apa itu kusta?. Setelah beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang kusta, saya memutuskan untuk datang ke Indonesia. Perasaan saya saat pertama kali tiba di Ngangetadalah, “Oh, desa. Katanya terdapat orang yang pernahmengalamikusta, tetapitidak terlihat perbedaandengan orang biasa. Semakin lama tinggal di desadanmakindekat dengan warga, saya menemukan “perbedaandengan orang biasa di fisikmereka. Sepertijari yang bengkok, kecacatan pada hidung, alismata yang hilang, atau laki – laki yang mengalami pembesaran di dadanya (ginekomastia), ituadalahciri-ciri

The 8th NIWC 2017: Guru Kesederhanaan

“Every time I look at myself in the mirror, I see nothing but failure. but once in my lifetime, I experienced something that changed myself a lot….Nganget, you’ve changed me.  Hmmmmm….. Nganget, yup! Its one of my turning points! To rid off my self from all the sick stuff I grew up with. I’ll share my experience as a volunteer in Nganget International Workcamp 2017. And for your information, Dusun Nganget berada dibawah tanggung jawab Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan merupakan rumah bagi orang-orang yang pernah mengalami kusta. Mungkin cerita ini akan sedikit berbeda dibandingkan tulisan lainnya, karena inti pelajaran yang saya ambil selama mengikuti Nganget International Workcamp hanya mengenai satu hal, simplicitya.k.a kesederhaan. Lalu apa hubungan Dusun Nganget dengan Kesederhanaan dan dengan diri saya? Mengutip dari buku bacaan favorit saya L’art de la Simplicit√©: The simple life means more than merely contenting yourself with a frugal meal. It means aspiring to a higher plane…

The 8th NIWC 2017: Menemukan Arti Cinta

Dengan cinta semua hal terasa sempurna. Dan karenanya hidup terasa lebih baik. Dua minggu di Nganget merupakan salah satu dua minggu terbaik di hidupku. Begitu banyak cinta yang aku terima, hal yang rasanya tidak pernah aku terima selain dari orang tua. Berminggu-minggu setelahnya pun masih jelas terasa cinta yang aku terima, juga pelukan hangat yang warga Nganget berikan kepadaku. Aku bertemu dengan Pak Tarimo dan Bu Kasmini, di hari ke 8 di Nganget. Sebuah kebetulan dan juga sebuah takdir sepertinya. Pak Tarimo berumur hampir 60 tahun begitu juga dengan istri beliau. Bapak adalah orang yang sangat pemalu. Pertemuan pertama dengan beliau cukup canggung bagiku. Aku memperkenalkan diriku dan beliau hanya tersenyum malu-malu. Berkebalikan dengan Bu Kasmini yang ceria dan lebih terbuka. Di umur yang sudah hampir lanjut mereka juga memiliki seorang anak, Dodo, anak laki-laki berumur 14 tahun.  Keluarga kecil ini hidup dengan memelihara 2 ekor sapi milik sendiri dan seekor sapi milik tetangg…

The 8th NIWC 2017: Nganget Mencari Arti

21 Juli 2017, Kereta Api Kertajaya, Pasar Senen-Bojonegoro.


Hari itu, adalah hari keberangkatan saya yang pertama ke Nganget. Saya sama sekali tidak mengetahui bagaimana wujud Nganget, kondisi warganya, keadaan, suasana, dan sebagainya. Satu-satunya hal yang saya tahu waktu itu hanyalah Nganget adalah suatu wilayah yang ditinggali oleh orang-orang yang pernah mengalami kusta, dan satu-satunya yang saya yakini, kehadiran kami dengan NIWC akan membuat mereka lebih baik. Begitu pula dengan alasan saya mengikuti NIWC 2017, alasan saya waktu itu benar-benar sederhana. Saya merasa bahwa selama kuliah, selama hidup ini, saya belum benar-benar melakukan hal yang berarti bagi orang lain. Semua kemudahan yang saya terima, kemudahan belajar, fasilitas, dan segala anugerah  yang saya dapatkan serasa tidak memiliki arti yang jelas. Untuk apakah saya hidup ? apakah hanya untuk mengejar kekayaan, prestasi, dan target pribadi yang semu ? Apakah saya hanya hidup untuk sendiri ? Apakah arti hidup ? Apak…

The 8th NIWC 2017: Sapi, Anak Ibuku

Suatu siang, aku menerima sebuah pesan singkat, ‘Nduk, aku kepingin rungokno suaramu’ atau dalam bahasa Indonesia artinya ‘Anakku, aku ingin mendengar suaramu’. Kalimat itu kudapat dari Ibu paling ceria dan cerewet yang pernah kukenal di Nganget, Bu Muanah. Aku terenyuh membacanya, rasa yang sama seperti yang kualami saat pertama kali datang ke rumah Ibu dengan Adam, Cinta, Miyu, Hina, dan Ginya.      Aku ingat jelas senyum yang terpatri di wajah Bu Muanah saat kami menyapanya dan bilang kalau kami mau mampir. Aku juga ingat jelas saat senyum itu berganti menjadi wajah penuh penyesalan. Sesal yang Beliau rasakan karena tidak dapat menyajikan apapun untuk kami, sesal karena ia merasa rumahnya sangat tidak layak untuk dikunjungi, dan sesal akan identitas dirinya, ‘Aduh, nak, Ibu ini cuma janda, pernah sakit kusta, kakinya sudah tidak bagus lagi, sudah tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, ya begini saja hidupnya,’ katanya.        Berulang kali ke Nganget, aku sudah sering menden…

The 8th NIWC 2017: Memahami Kenangan

Seiring dengan perjalanan hidupnya, manusia cenderung menyimpan berbagai kenangan. Sampai sekarang aku tidak tahu berapa lama kenangan dapat bertahan, dan bagaimana kenangan itu akan tetap ada dalam pikiran manusia. “Kenangan memberikan kehangatan pada diri anda dari dalam, tapi kenangan juga dapat menghancurkan anda”, kurang lebih itu yang ditulis oleh Haruki Murakami dalam bukunya, Dunia Kafka, mengenai kenangan. Untukku, kenangan adalah harta pribadi seseorang yang mustahil dimiliki oleh orang lain. Orang lain mungkin memiliki kenangan tentang kegiatan yang sama, dalam waktu yang sama, dalam lingkaran orang – orang yang sama, namun tidak dengan kesan dan perasaan yang terselip dalam kenangan tersebut. Hanya kita yang memahami, dan merasakan kenangan yang ada dalam diri kita.       Kenangan merupakan hal yang berharga, menurutku. Sama seperti sore itu, ketika aku kembali menginjakkan kakiku di Nganget, sebuah dusun yang tenang, walaupun sekarang semakin ramai dikunjungi warga luar k…