Seminar "Curing the Stigma of Leprosy" dengan Pembicara dari Public Health International, Vrije Universitas Amsterdam


Jumat (23/5), Bertempat di Gd. G Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, LCC UI mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sebuah forum bertajuk “Curing the Stigma of Leprosy”. Acara ini diselenggarakan oleh pihak Universitas Indonesia yang bekerjasama dengan institusi besar  yang berasal dari Belanda yaitu Vrije Universitas Amsterdam danNetherlands Leprosy Relief (NLR). Pada intinya forum ini merupakan sarana penyampaian hasil penelitian yang mencakup pengkajian hingga implementasi yang telah dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait diatas dari tahun 2010 hingga 2014 dalam usaha mengurangi stigma terhadap penyakit kusta dan orang-orang yang pernah mengalaminya di daerah Cirebon, Jawa Barat. Cirebon merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki koloni atau pemukiman orang yang pernah mengalami kusta. Cirebon dipilih karena merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa yang memiliki prevalensi kusta tertinggi.
Penyampai presentasi adalah tiga orang mahasiswa S2 jurusan  Public Health Internationaldari Vrije Universitas Amsterdam bernama Lisette Vekerk, Renske Voorn, dan Stefanie Krooze. Dalam forum ini, ketiga speaker memperkenalkan sebuah program dalam penelitian mereka bernama “SARI”. SARI merupakan kepanjangan dari Stigma Assessment Reduction of Impact yang terdiri dari tiga macam intervensi utama yaitu Contact Intervention, Counseling Intervention, dan Socio-economic Development Intervention. Pada presentasi ini disampaikan keseluruhan proses dari penelitian yang telah mereka lakukan yang mencakup tahap pengumpulan data, implementasi, hingga laporan hasil.
Sebelum mengimplementasikan ketiga intervensi tersebut, peneliti telah melaksanakan pengumpulan data dengan berbagai macam metode, seperti penyebaran kuisioner, wawancara, dan focus group discussion (FGD) terhadap beberapa jenis kelompok yang ada di lokasi penelitian. Dari mulai kelompok pemangku jabatan yang ada disana, kelompok masyarakat biasa, hingga kelompok anak-anak yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang pernah mengalami kusta di daerah Cirebon. Hal ini bertujuan agar peneliti bisa mendapatkan berbagai macam persepktif dari masyarakat mengenai kusta dan stigma yang menyertainya.
Contact intervention memiliki tiga macam kegiatan. Kegiatan tersebut terdiri atas, education,berupa kegiatan penyampaian informasi mengenai kusta dan permasalahan stigma yang menyertainya, interaction, dengan berinteraksi secara langsung dengan warga yang pernah mengalami kustadan event, dengan menyelenggarakan sebuah acara atau kegiatan bersama-sama dengan warga yang pernah mengalami kusta. Sedangkan counseling intervention terdiri dari tiga macam kegiatan utama, berupa psychological supportdengan mengikutsertakan anggota keluarga orang yang pernah mengalami kusta, appropriate education, dan coping skills, untuk memfasilitasi orang yang pernah mengalami kusta beradaptasi terhadap dampak psikososial yang mereka alami akibat adanya stigma yang menyertai. Terakhir, ada socio-economic development intervention, yaitu sebuah bentuk pemberdayaan masyarakat yang memiliki tiga jenis implementasi, berupa micro-credit, yaitu peminjaman modal kepada warga untuk memulai sebuah usaha, livestock dengan memberikan hewan ternak berupa kambing untuk warga, dan skill training, berupa pelatihan membuat kerajinan tangan seperti kotak tisu dan sapu serta pelatihan menjahit payet.
Setelah dilakukan intervensi, peneliti mendapatkan hasil bahwa baik warga biasa maupun warga yang pernah mengalami kusta di Cirebon telah mengalami beberapa perubahan yang positif dalam usaha pengurangan stigma. Warga menjadi lebih tercerdaskan mengenai kusta dan segala permasalahannya. Intervensi yang telah dilaksanakan juga secara langsung maupun tidak langsung telah meningkatkan dukungan moral dari keluarga dan masyarakat kepada salah satu keluarga atau warganya yang pernah mengalami kusta. Masyarakat menjadi lebih perhatian terhadap orang yang pernah mengalami kusta yang tinggal bersama-sama dengan mereka. Dukungan moral yang diberikan oleh keluarga dan masyarakat juga berpengaruh terhadap peningkatan kepercayaan diri warga yang pernah mengalami kusta yang selama ini hilang akibat stigma dan diskriminasi dari masyarakat luas. Pada akhirnya, peningkatan kepercayaan diri ini telah memengaruhi orang yang pernah mengalami kusta untuk menjadi lebih beranid dan lebih terbuka dalam berpartisipasi di komunitasnya, termasuk untuk kembali berinteraksi dengan orang luar bahkan memulai untuk bekerja kembali. (jrf)

Comments