Sedikit Memberi, Banyak Belajar, Saling Berbagi

Foto ini tampak normal sekali, orang tua yang sedang berkumpul dan tampak begitu ceria dengan senyuman mereka. Ya, benar sekali, mereka orang yang normal di mataku, sama seperti orang lain pada umumnya, tidak ada bedanya. Namun, tahukah kamu bahwa setiap wajah dalam foto ini memiliki kenyataan yang begitu bertolak belakang dengan tawa ceria mereka?
Mereka adalah orang yang hidup dengan cara yang berbeda. Orang yang menjalani hari-hari dengan pandangan yang berbeda. Dan orang-orang yang diberi kesempatan dan kelebihan dari Allah melebihi orang-orang normal pada umumnya. Lalu, siapakah mereka itu? Kesempatan dan kelebihan apa yang Allah berikan kepada mereka?
Mereka adalah ‘Orang yang Pernah Mengalami Kusta’. Istilah ini secara resmi digunakan di seluruh dunia untuk menyebut orang yang telah sembuh dari penyakit kusta. Mereka tinggal di sebuah desa bernama Nganget yang jaraknya cukup jauh dari perkotaan, sekitar 30 km dari kota terdekat, Bojonegoro, Jawa Timur. Namun, desa ini terletak di kabupaten Tuban. Desa Nganget merupakan tempat rehabilitasi Orang yang Pernah Mengalami Kusta dimana di dalamnya juga terdapat Panti Sosial yang menampung sebanyak (jumlah penghuni) orang. Di luar panti itu sendiri juga tinggal Orang yang Pernah Mengalami Kusta, jumlahnya cukup banyak, sekitar (banyaknya) KK.
Aku mengenal setiap wajah di dalam foto tersebut. Meskipun sangat sulit menghafal seluruh nama mereka. Tapi cukup bagiku untuk mengerti  tentang mereka, setelah hampir setengah bulan aku hidup, bercanda,  foto, makan, dan bekerja bersama mereka. Yang aku tahu kehidupan mereka tidaklah mudah, setelah diskriminasi  yang mereka terima dari lingkungan sosial mereka selama ini. Terlebih saat mereka belum tinggal di Desa Nganget, tidak hanya diskriminasi dari tetangga, bahkan dari keluarga kandung pun mereka mendapatkan diskriminasi itu.
Disinilah letak kesempatan dan kelebihan yang Allah berikan kepada mereka. Kesempatan untuk melihat kehidupan dari sisi yang berbeda. Kemudian mereka hidup dengan cara berbeda. Mereka pun bersyukur dengan cara yang berbeda, begitu sederhana, terlihat dalam senyuman pada foto di atas. Kelebihan itu pun Allah berikan dalam bentuk kelapangan hati yang luar biasa. Ditengah segala keterbatasan fisik, Allah anugerahi hati yang begitu luas untuk saling memahami , untuk sekedar menyapa dan tersenyum pada setiap orang yang mereka temui. Begitu lugas. Tak mengharapkan apapun. Betapa menyenangkannya hati orang-orang itu.
Aku sendiri adalah tipikal orang yang menjalani kehidupan ini dengan biasa saja. Bukan berarti mengikuti arus, dan terserah kemana kehidupan akan membawaku. Tapi lebih karena aku tidak terlalu berambisi dan lebih suka hidup dengan caraku sendiri. Aku menyukai kehidupan damai dan saling menghargai. Ketika aku memutuskan untuk mengikuti kegiatan di Desa Nganget bulan Agustus 2010 lalu, aku tidak pernah sedikitpun memiliki keinginan untuk merubah kehidupan orang-orang yang pernah mengalami kusta, menghilangkan diskriminasi terhadap mereka, atau menurunkan jumlah kasus orang terjangkit penyakit kusta di Indonesia. Yang aku pikirkan adalah kegiatan ini pasti menyenangkan dan aku bisa bertemu dengan orang-orang baru.
Dua minggu kegiatan berjalan, senang, sebal, capek, bosan, sedih, semua saling berpadu. Kegiatan yang kami lakukan adalah membuat jalan. Jalanan yang tadinya dari tanah dan bebatuan , kemudian kita buat lapisan semen cukup kuat di atasnya. Bersama penduduk, laki-laki perempuan, tua muda, higga anak-anak kecil, kita bekerja siang-malam, menerjang panasnya puasa Ramadhan, dan bahkan beberapa hari sempat lembur hingga tengah malam. Tak ada yang mengesankan dari kegiatan tersebut. Itu yang aku rasakan.
Namun, perasaan itu berubah seketika di hari terakhir kegiatan kami di Desa Nganget. Entah mengapa, aku merasakan seolah-olah akan ada yang hilang. Dan ternyata rutinitas itu telah mengakar kuat dalam diri kami. Aku merasa akan kehilangan rutinitas yang selalu aku anggap biasa saja. Kemudian secara tiba-tiba, aku menjadi begitu menyukai desa mungil ini. Aku menyayangi setiap anak-anak yang selalu berkumpul di depan basecamp sepanjang waktu. Aku mencintai setiap Orang yang Pernah Mengalami Kusta di Desa Nganget. Ternyata perasaan ini tidak hanya dirasakan oleh aku sendiri, setiap peserta kegiatan ini juga merasakan keganjilan ini. Saat berpamitan dengan penduduk desa maupun panti, kami semua buncah oleh air mata karena haru dan bahagia. Terharu dengan segala kebaikan dan hari-hari yang ternyata sungguh luar biasa indah. Bahagia karena menemukan pelajaran hidup yang begitu berharga.
Kami mengerti, ternyata bukan materi maupun prestasi yang dapat membuat kebahagiaan ini. Melainkan ikatan-ikatan keluarga yang tulus terbentuk karena kita adalah makhluk yang sangat lemah. Kita saling membutuhkan. Bahkan kita butuh orang lain untuk sekedar tahu nama kita. Keluarga ini tidak butuh rumah, karena selalu ada tempat untuk kembali di dalam setiap hati kami.
Sedikit memberi, banyak belajar, kemudian saling berbagi. Itulah kegiatan kami. Bukan bentuk materi yang bisa kami berikan disini, melainkan pelukan hangat dan kasih sayang. Sungguh, kami belajar banyak sekali hal disini. Selalu menyenangkan mengingat wajah-wajah keluarga mungilku di Nganget.
Untuk sahabat-sahabatku, PNS, supir bis, dosen, karyawan perusahaan, siswa sekolah, aktivis-aktivis perubahan, maupun pejabat pemerintahan atau siapapun yang membaca tulisan ini. Sungguh, orang-orang ini tidak butuh uang maupun segala bentuk materi agar mereka bisa hidup. Tak perlu lah diliput maupun di eksploitasi figur mereka di media-media massa. Tak perlu juga peringatan tahunan atau apapun yang sebatas ceremonial yang menghabiskan dana berjuta-juta. Cukup kau anggap mereka seperti orang biasa pada umumnya. Hampiri mereka, dengarkan cerita mereka, bercanda renyah dengan mereka, jabat tangan mereka erat-erat, lupakan semua perbedaan itu. Dan di saat itulah kau membuat mereka hidup kembali. Meninggalkan diskriminasi yang selama ini membelenggu mereka.

Dunia ini begitu sederhana, hanya diisi oleh ‘kau dan aku’, kemudian terbentuklah kata ‘kita’, tidak ada yang berbeda. (Affan Nurrohman Wiguna, FKM UI 2009)

Comments