Nganget International Workcamp 2012 : Experience Never Ending Fellowship

Pada awal Agustus tahun 2012, Leprosy Care Community University of Indonesia (LCC UI) mengadakan sebuah kegiatan International Workcamp (IWC) untuk ketiga kalinya. Kegiatan ini diikuti oleh campers dari berbagai fakultas Universitas Indonesia dan campers dari Jepang yang keseluruhannya berjumlah 28 orang. Kami menginap selama 14 hari di sebuah desa yang bernama desa Nganget di daerah Tuban, Jawa Timur.  Desa Nganget adalah desa yang terpencil di antara hutan jati, jaraknya cukup jauh dari perkotaan, sekitar 30 km dari kota terdekat, Bojonegoro, Jawa Timur. Penduduk desa ini telah mengalami asam garam kehidupan, bahkan pahitnya kehidupan pun mereka lalui. Mereka yang kesepian tanpa sanak saudara, mereka yang kehilangan sebagian anggota tubuhnya, mereka yang tidak berani melihat dunia luar yang sesungguhnya begitu luas, mereka yang menerima nasibnya : menjalani hidupnya sampai akhir hayat di tempat itu, karena keterbatasan pilihan. Ya, mereka adalah “orang yang pernah mengalami kusta”. Istilah ini secara resmi digunakan di seluruh dunia untuk menyebut orang yang telah sembuh dari penyakit kusta.
Selama workcamp, campers dibagi menjadi 4 kelompok. Dimana setiap kelompok akan bergiliran melakukan kegiatan setiap harinya. Kegiatan dibagi menjadi work, kunjungan rumah atauhome visit, dan menyiapkan makanan. Work terdiri dari merapihkan jalanan pemandian air panas, membersihkan panti, memasang kassa di panti, dan memperbaiki Taman kanak-kanan (TK). Banyak juga kegiatan lain dan acara yang dilakukan disana. Seperti buka puasa bersama, menghibur warga dengan mengadakan pesta penyambutan dan pesta penutupan, program pendidikan anak-anak, malam pertukaran budaya dengan campers Jepang, lomba 17 agustusan, games sesama campers,games yang melibatkan warga, rekreasi ke air terjun, serta kunjungan ke panti dan rumah-rumah warga.
Berbagai kegiatan yang kami lakukan selama dua minggu di desa ini berhasil menyentuh hati dan membuat kami tersentak. Betapa penduduk desa ini kuat menanggung beban fisik dan psikologis yang mereka emban selama ini. Di wajah mereka yang keriput selalu tersisip senyuman meski kadang bercampur dengan kegetiran. Tapi ketulusan mereka benar-benar dapat kami rasakan. Mereka bisa memberi dengan senang hati apa yang tersimpan di lemari kamarnya, kacang, buah, sayuran, kue kering, bahkan mie instan pun mereka keluarkan untuk kami yang bukan siapa-siapa.
Kami mengerti, ternyata bukan materi yang dapat menciptakan kebahagiaan. Melainkan ikatan-ikatan keluarga yang tulus terbentuk karena kita adalah makhluk yang sangat lemah. Kita saling membutuhkan. Bahkan kita butuh orang lain untuk sekedar tahu nama kita. Keluarga ini tidak butuh rumah, karena selalu ada tempat untuk kembali di dalam setiap hati kami.
Sungguh, orang-orang ini tidak butuh uang maupun segala bentuk materi agar mereka bisa hidup. Tak perlu lah diliput maupun di eksploitasi figur mereka di media-media massa. Tak perlu juga peringatan tahunan atau apapun yang sebatas ceremonial yang menghabiskan dana berjuta-juta. Cukup kau anggap mereka seperti orang biasa pada umumnya. Hampiri mereka, dengarkan cerita mereka, bercanda renyah dengan mereka, jabat tangan mereka erat-erat, lupakan semua perbedaan itu. Dan di saat itulah kau membuat mereka hidup kembali. Meninggalkan diskriminasi yang selama ini membelenggu mereka.

Comments