Nganget : Ever After Friendship

Pertama kali tau kalo ada komunitas LCC UI itu awalnya dari Ncan yang abis ikutan IWC 2 tahun 2011. Terus tertarik buat gabung ke LCC UI dan ikutan acara-acaranya. Abis itu, Ncan selalu nge-tagged pengumuman buat training yang katanya buat pembekalan IWC 3. Disitulah awal aku ketemu sama Kak Luri, Putri, Rini, dan sebagainya meskipun hanya sebatas kenal biasa aja. Dulu, emang belum terlalu tahu banyak tentang kusta tapi setelah bikin motivation letter buat apply IWC 3 cukup tahu tentang apa itu kusta, penyebab, penyebarannya, solusi, dan sebagainya dari website WHO. Nah dari sini,aku jadi semakin tertarik buat ikutan ngebantu mereka (orang yang pernah mengalami kusta) supaya mendapat perlakuan setara kayak orang-orang pada umumnya, kenapa? Karenamereka punya hak buat hidup bahagia tanpa diskriminasi, mereka punya hak buat menikmati anugerah hidup ini, dan yang pasti mereka juga punya hak buat tertawa. Aku memang tidak berpikir muluk-muluk untuk membuat seluruh orang di atas muka bumi ini mau menerima mereka apa adanya—tanpa diskriminasi tentunya—aku hanya berpikir bahwa aku akan memulai dari diriku sendiri untuk menerima, menghargai, dan membuat mereka tersenyum dan kemudian aku akan sedikit demi sedikit menyadarkan orang-orang disekitarku untuk membuka hati untuk menerima mereka (orang yang pernah mengalami kusta) apa adanya karena aku percaya “nobody’s perfect” ya, manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing maka dari itu kita hidup di dunia ini dengan melengkapi satu sama lain bukan malah menonjolkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki dan menceomoh kekurangan yang dimiliki orang lain.
Ketika download CV LCC UI dan tahu bahwa kita harus bikin motivation letter dalam bahasa Inggris sempat ragu juga buat ikut LCC UI apalagi kita disana bakal kerja bareng sama Japanese campersjuga. Tapi kata Ncan, bahasa Inggris sebagian besar dari mereka (Japanese campers) juga sama kayak kita kok (pas-pasan), hehe… gak berarti nyindir ya ^^. Setelah denger itu lumayan lega dan termotivasi lagi buat cepet-cepet ngelengkapin CV dan motivation letter. Oh iya, sempet khawatir juga bakalan gak lolos seleksi karena bahasa Inggris aku pas-pasan banget, hehe… tapi setelah dapet sms kalo aku lolos ikut IWC 3 rasanya seneeeeeeng banget sampe mau lompat ke Bulan, hehe.. #lebay
Inget-inget lagi dulu waktu persiapan keberangkatan IWC itu bikin ngakak sendiri soalnya ribet banget. Why? Pertama, tanggal berangkatnya itu pas banget H+2 selesai magang fakultas jadi aku yang baru bikin laporan magang akhir-akhir waktu jadi harus ‘begadang’ buat nyelesein tuh laporan. Alhasil, aku Cuma tidur 2 jam malam sebelum berangkat, udah gitu masih belum selesai karena belum dapet paraf pengawas dan belum ngisi daftar hadir pas magang, terus curhat ke pengawas magang dan untungnya beliau baik hati dan menyarankan aku untuk membuat ‘paraf palsu’ (jangan ditiru ya!). akhirnya sengan seizin beliau aku melancarkan aksiku buat bikin paraf-paraf ‘aspal’(asli tapi palsu) hehheeh… cobaan belum berakhir karena ternyata eh ternyata sleeping bag ketinggalan di tempat magang (kebetulan ada di Pasar Minggu), jadilah aku harus berangkat dari rumahku di Bekasi dan mampir dulu ke Pasar Minggu dan balik lagi ke kampus buat ngumpulin laporan magang. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB dan aku masih sibuk ngurus laporan magang, sebenernya udah bolak-balik di-sms dan ditelpon Ncan dan Rini. Lagi-lagi apes, kena tipu tukang ojek.. disuruh bayar 25 ribu (UI-Terminal Depok) Cuma karena lewat jalan pintas, huhuhu… yasudahlah aku piker yang penting sampe dengan selamat dan cepat. Tapi sedikit rese ya tukang ojeknya, tega banget, masa aku disuruh jalan lagi ke dalem, katanya bis ke Priuk deket situ padahal jalannya keluar kampung dulu baru ketemu terminal lagi… hadoohhh -___-‘’
Akhirnya ketemu juga sama temen-temen IWC lainnya di terminal, ketemu Chika, Minami, Shusuke, dan Mojabee juga disana. Awalnya kagok juga mau ngomong apa ke mereka, secara aku juga bukan tipe orang yang gampang “ceplos-ceplosan’’ sama orang yang baru ketemu, hehe.. tapi gak nyangka aja sekarang bisa deket banget sama mereka khususnya campers Indonesianya, gak nyangka kalo mereka tuh asyik2 orangnya, humoris, dan enak diajak ngobrol apapun, hahaha…
Selama perjalanan di kereta menuju St. Bojonegoro aku masih sering ngobrol sama Indonesia campers karena aku masih gak ‘Pede’ buat ngobrol sama Japanese campers –nya. Oh ya, ini kali kedua aku naik truk loh, yang pertama waktu  mau naik gunung didaerah Garut (numpang sama truk yang berhasil ditodong, hehe), yang kedua pas kemarin mau ke Nganget. Selama perjalanan karena masih pagi, udaranya sejuk banget dan ngeliat tatanan kota Bojonegoro dan Tubanyang bikin kangen sama kampuang halaman Ayahku di Pasuruan, Jawa Timur. Seneng banget rasanya bias menghirup udara pedesaan (mungkin kedengeran terlalu lebay, tapi aku orangnya memang kayak gini, hehe.. “ appreciation of beauty’’ kalo kata M. Seligman). Sampailah kita di Nganget dan pekerjaan pertama yaitu bersih-bersih basecamp. Kelar dari situ kita home visit ke rumah-rumah warga di Nganget.
Awalnya aku gak deket sama Minami dan Chika, tapi karena kita satu kelompok dan kerja bareng jadi cukup kenal mereka lah.. dan ternyata mereka berdua itu lucu juga ya, hehe.. seneng banget deh bisa sekelompok sama Putri, Minami, Lia, Chika, ditambah dua orang pendatang baru Yuma dan Shuhei. Gak nyangka kalo Yuma itu orangnya gokil abis dan Shuhei aksen bahasa asing-nya bagus. Masing-masing anggota kelompok aku emang punya karakter unik dan lucu, jadi gak nyesel sekelompok sama orang-orang gokil ini. Jadi kangen sama mereka, hiks hiks ;(
Bingung nih mau mulai nulis apa lagi ya, saking banyaknya memori-memori unforgetable di Nganget, hehe..
-      Ada C.I.N.T.A di Nganget
Nganget, sebuah Dusun yang pertama kalinya mewarnai hidupku, ya.. aku gak nyesel memutuskan ikut IWC ini dan gak nyesel mengundurkan diri dari posisi magang di sebuah sekolah beken dan bergengsi di Jakarta demi bisa ikutan acara ini. Aku pernah tulis tujuanku ikut IWC di motivation letter yaitu untuk mewarnai diari perjalanan hidupku dan sekarang aku merasa takjub, senang, dan bangga karena aku akhirnya bias mengisi sesuatu yang berbeda dalam hidupku dan akhirnya bias membuat mereka (warga Nganget) tersenyum senang karena mereka tahu bahwa ternyata di luar sana masih ada yang peduli dengan mereka.
Melihat senyum tulus mereka yang seakan-akan mereka sendiri mengabaikan kekurangan fisik mereka membuat hatiku miris karena aku saja yang selalu diberi nikmat lebih dari cukup oleh Allah S.W.T  jarang mengucap syukur kepadanya, sedikit ada masalah selalu mengeluh, kenapa begini kenapa begitu, seakan-akan menjadi orang yang paling tidak beruntung di dunia ini. Bertemu dengan mereka (warga Nganget khususnya yang pernah mengalami kusta) membuat aku berpikir ulang kenapa selama ini aku begitu egois karena hanya mementingkan nasib sendiri, jarang bersyukur padahal banyak orang lain yang mungkin tidak seberuntung aku tetapi masih bisa menunjukkan senyuman tulus kepada orang lain dan menunjukkan bahwa mereka sangat bersyukur atas apa yang diberikan Allah S.W.T selama ini meskipun dengan kondisi yang serba kekurangan, hanya dengan kehadiran kita disana dan membuat mereka senang itu sudah lebih dari cukup bagi mereka. Ya, hal itulah yang diungkapkan Bapak Rasyid yang istrinya sudah meninggal 2 tahun lalu dan sanak saudaranya tidak ada yang pernah mengunjunginya lagi, namun dengan kedatangan kita ke Nganget dan mengunjungi beliau, hal itu saja sudah lebih dari cukup, karena beliau berkata bahwa kita sudah dianggap seperti cucunya sendiri. Senang rasanya mendengar penuturan-penuturan beliau, penghuni panti lain, dan juga warga Nganget di luar panti mengenai sejarah hidup mereka dan kisah-kisah lainnya. Aku juga senang karena Warga Nganget menyambut kita (campers) dengan hangat dan bersahabat, mereka juga mau mendukung, membantu dan bekerja sama ketika kita mengadakan acara-acara disana. Rasanya aku punya keluarga kedua disana, keluarga besar yang selalu mengajarkan aku arti hidup dan rasa syukur, dan persahabatan. Kurang lebih 12 hari aku disana namun rasanya seperti sudah lama aku mengenal warga disana dan juga semua teman-teman campers. Masak, nyuci piring, lomba 17-an, kerja di panti & hot springcultural nightwelcoming party, sampai farewell party, itu semua gak lepas dari kerja keras teman-temancampers dan juga warga Nganget. Kebersamaan disana, ada kesedihan, kegembiraan, marah, kesal, rasa syukur, dan sebagainya yang gak terbilang jumlahnya. Awalnya gak kenal jadi kenal, awalnya gak deket jadi deket, awalnya gak suka jadi suka, awalnya gak bersyukur jadi bersyukur, awalnya renggang jadi nyatu. Ya, kita semua berbeda dan aku merasakan keberbedaan itu tapi rasa kebersamaan itulah yang membuat kita menjadi satu dalam perbedaan-perbedaan yang ada, saling mengisi kekurangan dan menghargai kelebihan yang hadir karena “hidup itu saling melengkapi satu sama lain”. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup mereka jika kita pun tidak peduli dengan mereka karena kehadiran kita sudah cukup memberikan arti hidup buat mereka, tidak satu pun dari mereka yang meminta lebih, ingin rumah bagus, mobil bagus, duit banyak.. yang mereka inginkan hanya satu, yaitu kepedulian dan penerimaan dari saudara dan lingkungan sekitar mereka, mereka hanya ingin bahwa mereka ada dan juga berhak merasakan semua perasaan (senang, sedih, marah) yang dianugerahkan kepada setiap manusia muka bumi ini. Oh iya, baru ingat.. ada seorang ibu yang bilang kalau kita (campers) seharusnya tinggal lebih lama lagi karena ibu tersebut mau ngajak makan bareng dirumahnya… dan beliau bilang begini “harusnya kalian lebih lama disini dan jangan bulan puasa kayak gini karna ibu gak bisa menyediakan makanan.”, “kalo kesini sebentar terus. Baru aja datan, sebentar, terus udah mau pergi(pulang) lagi. Nanti tahun depan juga gitu lagi. Kan ibu juga kangen kalian”. dalam hati aku berkata “Ya Allah, kalau aja aku juga bisa tinggal disini lama biar mereka senang, kenapa nggak?”. Sedih juga rasanya karena kita gak bisa ngerasain lebih lama tinggal disana dan harus udah berpisah lagi sama mereka.
Hidup disana membuat hati damai, sejenak melupakan berbagai macam urusan di rumah dan tempat kuliah belum lagi masalah-masalah perkotaan yang dihadapi tiap hari (i.e. macet, polusi, sampah, suara bising kendaraan, etc). tinggal di Nganget serasa dunia hanya ada campers dan warga Nganget aja, rasanya damai, tenang, dan serasa hidup tanpa masalah. Jalan-jalan di pagi hari bersama anak-anak Nganget, selalu menunggu matahari terbit dari atas bukit, nyanyi-nyanyi gak jelas, liat mereka(anak-anak) main petasan, nulis-nulis gak jelas pake batu kapur, foto-foto, naik sepeda ngelewatin persawahan, sampe diajak anak-anak Nganget lewat jalan pintas menuju lapangan dengan menyusuri hutan jati, jalan-jalan ke air terjun mini lewat sawah-sawah, main voli, dan masih banyak pengalaman seru yang gak bisa dilupakan selama di Nganget. Bisa dibilang, Nganget itu sekarang udah kayak hometown-nya aku, hehe..
Gak hanya dengan warga tentunya, kita(campers) sendiri pun merasakan kedekatan diantara kami. Mulai dari bangun tidur, sahur, kerja bareng, supper, sang together, sampai tidur lagi itu gak lepas dari bumbu-bumbu cinta, sedih, marah, kesal, dan bahagia. Semua jadi satu yang membuatworkcamp terasa lebih berwarna. Kita (campers) semua memang berbeda namun disana kita bisa saling melengkapi satu sama lain sehingga melahirkan kebersamaan yang erat dan tak terlupakan. Dengan rasa kebersamaan, kerja menjadi ringan dan cepat selesai. Kemarin ketika melakukan  kerja disana aku merasa tidak terasa capek meskipun itu bulan puasa karena kita saling menyemangati. Bernyanyi bersama sebelum makan malam, meresapi makna dibalik lirik lagu “that’s what friends are for” dan mengingat-ingat kembali apa aja hal-hal bermanfaat yang udah kita kerjain hari itu dan sama teman-teman lainnya juga.
Dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan. Yah, saat farewell party aku menikmati sekali menari dan bernyanyi bersama semua warga Nganget dan semua campers, rasanya tidak rela berpisah dengan mereka. Rasanya baru kemarin kita sampai dan harus berpisah lagi ;(
rasanya kita baru bekerja, bermain, dan bernyanyi bersama-sama juga dengan warga Nganget tapi sudah harus pergi lagi dan tidak percaya bahwa esok hari aku sudah harus pergi dari kehidupan damaiku di Nganget dan kembali ke rutinitas di kota dengan berbagai macam masalahnya. Tidak lagi melihat matahari terbit bersama anak-anak Nganget dan merasakan sejuknya udara Nganget di pagi hari, tidak lagi bertemu keluarga besarku di Nganget dan berbagi tawa dengan mereka, tidak ada lagi lagu pengiring makan malam, dan malam-malam dengan games yang menyenangkan. Namun, aku yakin perpisahan itu hanya sementara karena suatu saat jika Allah mengizinkan dan memberikan kesempatan untuk bertemu dengan keluarga Nganget lagi, saya yakin kita pasti akan bisa berkumpul bersama lagi.. it’s never throw away from my memory, not even when I go far away because I’ll keep those memories to be apart of my long-term memory
(Akari Yuya)

Comments