Jepara Workcamp 2013 : Life Is Happiness And Smile Is Our Future


Di bulan Januari 2013, ada workcamp spesial yang dilakukan LCC UI. Mengapa spesial ? Karena kegiatan ini adalah workcamp perdana di desa Donorojo Jepara. Yang lebih spesial,  pelaksanaan Jepara workcamp bertepatan dengan peringatan World Leprosy Day (WLD). LCC UI bersama rumah sakit kusta Donorojo Jepara dan penduduk desa melakukan berbagai kegiatan untuk memeriahkan WLD tahun ini, mulai dari seminar, kontak survei (RVS), campaign tentang kusta di Semarang, pertandingan olahraga, dan pentas seni.
Seminar pembuka WLD diselenggarakan di Rumah sakit Kelet Jepara pada tanggal 26 Januari 2013Seminar ini dihadiri oleh para kepala daerah, guru, dan tokoh masyarakat yang berasal dari berbagai Kecamatan di wilayah Jepara. Penyelenggaraan seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta seminar tentang penyakit kusta, dan juga cara pemberantasannya.
            Seminar ini diisi oleh 3 orang pembicara, Dinas kesehatan Jepara, Pak Joko Winarno selaku Kepala staf perawat RS Donorojo, dan juga Pak Badar yang merupakan perwakilan dari Komnas Kusta. Melalui seminar ini, para tokoh masyarakat dari wilayahnya masing masing diberikan pemahaman umum tentang penyakit kusta, dan juga tentang kondisi Indonesia yang menempati peringkat ketiga dunia dalam kasus penyakit kusta. Selain itu juga pihak rumah sakit memberikan data penemuan penyakit kusta yang mereka tangani di wilayah Jawa Tengah.
            Penyakit kusta merupakan penyakit yang menimbulkan masalah kompleks dan bukan hanya dari segi medis tetapi juga meluas menjadi masalah sosial dan ekonomi. Hal ini salah satunya disebabkan karena penyakit kusta merupakan penyakit menular yang bisa menimbulkan cacat fisik sehingga stigma negatif terhadap penyakit ini dan para penderita penyakit kusta terus bertambah dan menimbulkan leprophobia (ketakutan terhadap lepra) di kalangan masyarakat luas. Menurut Pak Joko, untuk mengatasi stigma negatif ini, diperlukan sinergisasi yang tepat terhadap pengelolaan kusta. Beliau menyebutkan ada 4 pilar utama dalam pengelolaan kusta yang memiliki peran masing masing dalam upaya mengatasi stigma ini, yaitu masyarakat umum, tenaga kesehatan, donor, dan pemerintah. Keempat pilar ini harus menjalankan fungsinya masing masing dalam upaya pengelolaan penyakit kusta, baik itu upaya represif maupun preventif.
            Kegiatan selanjutnya adalah kontak survei atau Rapid Village Survey (RVS), kegiatan ini merupakan salah satu metode pencarian kasus kusta. Kontak survei bisa dilakukan dengan pemeriksaan warga suatu wilayah desa, ataupun pemeriksaan tanda dini kusta pada anak-anak di sekolah. Kontak survei kali ini, merupakan tindakan lanjutan terhadap keluarga pasien kusta yang sebelumnya sudah dilakukan pemantauan.  Sebelum kontak survei ke rumah-rumah, ada penyuluhan tentang kusta yang dilakukan di balai desa. Setelah itu, kami segera meluncur ke rumah-rumah keluarga pasien kusta untuk melakukan pemeriksaan dini. Semua yang tinggal satu rumah dengan orang yang menderita kusta dilakukan pemeriksaan tanpa membeda-bedakan usia, dari anak-anak hingga lansia. Tidak hanya keluarga yang tinggal dalam satu rumah tapi tetangga sekitar juga diperiksa. Jika ditemukan orang-orang dengan tanda dini kusta, mereka disarankan untuk segera ke Puskesmas agar mendapat surat rujukan untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan di Rumah Sakit Donorojo. Kami menemukan dua anak kecil yang diduga kuat menderita kusta. Hasil RVS ini terdapat setidaknya 15 orang yang suspek positif menderita kusta dari sekitar 28 orang yang diperiksa. Dengan dilakukannya pencarian kasus kusta (RVS) ini, pengobatan dapat dilakukan segera mungkin, sehingga rantai penularan dapat dicegah.
            Kegiatan yang tidak kalah seru adalah campaign di lima titik kota Semarang. Tim RS Donorojo dan campers LCC UI membagikan bunga serta brosur tentang kusta untuk masyarakat. Malamnya, kami bertemu dengan ibu menteri kesehatan dalam ceremonial peringatan WLD di Semarang. Campaign ini bahkan dimuat di media massa Jawa Tengah.

Comments